Langsung ke konten utama

Postingan

Berkaca Pada Berita

  Sumpah capek !!! Aku sedikit trauma selepas baca berita tentang guru agama di Batang yang mencabuli 35 muridnya. BANGS*T. Mungkin kasus serupa sudah banyak belakangan ini, pengasuh cabul, guru cabul, ustadz cabul, dan berbagai karakter cabul di lingkungan lainnya. Modus pada kasus kali ini yang makin menjadikanku trauma dan sedikit khawatir. Dengan dalih tes kedewasaan sebagai rangkaian proses seleksi OSIS, Si Bangs*t ini melancarkan niat bejatnya, mencabuli muridnya, bahkan tega menyetubuhi 10 korban di antaranya. Lokasinya pun tak kalah miris, aksi bejatnya dilakukan masih di lingkungan sekolah, mulai dari ruang OSIS, ruang kelas, hingga gudang mushola. Aku menulis ini dengan suasana hati berantakan tak karuan. Sedih, marah, takut, dan frustasi bercampur semua. Sesekali mengelus kening hingga menjambak rambut. Bukan kenapa, aku dengan Si Bangs*t ini ada sedikit kesamaan peran di lingkungan sekolah, sama-sama sebagai guru agama dan pembina OSIS. Ya Allah, jaga hamba… ...

Terima kasih OSIS-MPK

Sekali lagi terima kasih, Terima kasih, bukan hanya karena momen 5 September 2022 yang memang luar biasa di rumah Mas Ketua. Kado-kado terindah kalian pun terlampau istimewa. Berbagai barang dengan brand yang masih asing di telinga. Haha. Lebih dari itu, sajian keseruan bersama sepanjang acara, menempatkanku pada tahta yang tidak semua guru punya. Senyaman itu kita, seperti mengembalikan usiaku yang mulai menua pada bayang-bayang yang begitu muda. Terima kasih juga untuk satu tahunnya. Berbagai cerita dan kenangan menjadi memori-memori indah di kepala. Suka duka, seru stres bersama tentu ada. Menyebalkan? Jangan ditanya. Haha. Kemudian maaf, Maaf jika outfit harian yang aku kenakan itu-itu saja, si paling neon, yang entah apa karenanya membuat kalian terdorong untuk menghadiahkan kaos si biru tua. Haha. Ditambah dengan tas dan jam tangan yang aku rasa semua ini adalah bentuk cinta, memaksaku untuk sedikit lebih keren dari biasanya. Maaf juga atas berbagai kekurangan yang aku...

Overthinking

Ada banyak hal yang sebaiknya tidak kita ketahui secara terperinci. Dewasa ini, aku sering merasakan lelahnya dihantam kekhawatiran yang tidak pasti. Hal-hal sederhana yang sebelumnya aku anggap bakal mudah terlewati, tiba-tiba berubah menjadi sebegitu runyamnya ketika sedang kualami. Tidak semestinya segalau ini, tidak semestinya sekhawatir ini. Cerita kemarin malam misalnya, dalam sebuah obrolan tongkrongan aku akhirnya mengetahui satu fakta, lalu aku cerna fakta itu sejadi-jadinya. Bahwa sebaiknya aku berganti haluan, merubah tujuan, melepas harapan. Aku tidak seharusnya jalan terus lurus ke depan, sesekali perlu jeda untuk belok kiri dan kanan, atau bahkan putar balik jika memang dibutuhkan. Mungkin kata orang, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Selagi mau berusaha pasti akan ada jalannya. Tapi aku sudah tidak bisa seoptimis itu, terlalu banyak ekspektasi dan realisasi yang menemui jalan buntu. Pertama gagal, lalu gagal lagi, dan gagal terus. Seru dan mengasyikan bukan? Bukan...

Ningmay

  Cukup lama aku menunggu di bilik pesantren ini. Seperti santri putra lainnya, aku berusaha mencuri pandang setiap santri putri yang melintas sepulang mengaji. Berharap dapat kembali kupandangi wajah yang teduh itu. Mayang, perempuan cantik asal Kalibakung itu menjadi pusat perhatian kami. Memang bukan aku yang pertama kali kenal, sebab kami beda angkatan. Aku masuk pesantren 2010, sedang dia satu tahun setelahnya. Jelas lebih dulu diperebutkan santri putra yang seangkatan. Namun aku pantang pulang sebelum menang, pantang menyerah sebelum kalah, pantang mundur sebelum lebur. Jika mengutip lirik lagu Dewa 19, akulah arjuna yang mencari cinta wahai wanita cintailah aku. Libur panjang dimulai, seluruh santri dijemput keluarganya masing-masing. Bagiku ini merupakan kesempatan emas, momen di mana aktifitas pesantren terlepas dari pantauan pengurus. Santri putra dan putri boleh bertemu di aula penjemputan. Tumpah ruah bagai pasar tiban yang biasa digelar di lapangan kecamatan. Tak...

Ghosting

  “Bacot Lu!” ungkapnya mengkahiri obrolan di tengah-tengah keramaian angkringan lesehan Arista, Pamularsih. Aku yang tak terbiasa dengan ucapan kasar hanya menunduk terdiam. Memang bukan seluruhnya salah Amel, sapaan akrabnya. Sangat wajar jika dia akhirnya mengumpat ucapan kasar di hadapanku. Salahku, sedari awal menawarkan hal-hal baik baginya. Dari mulai menjadi teman bercerita, teman bersukaria, dan teman berbagi cita. Kami banyak kesamaan dalam segala hal. Barangkali ini yang kemudian ditangkap Amel berlebihan. Aku mewanti-wanti sejak awal pertemuan, mohon jangan libatkan perasaan. Panjang lebar aku berusaha menjelaskan, perlahan penuh pertimbangan, bahwa hubungan ini sudah berlebihan, aku tidak bisa melanjutkan. “Tapi aku terlanjur nyaman, Bi” lirih Amel sembari menyela tetesan air matanya. Aku masih saja terdiam, berusaha menangkap semua yang telah dia utarakan. Aku tak menyangka, sudah sejauh ini terlibat dalam alur kisahnya. Sesaat aku coba mengenang dua bulan ke ...

DETA

  Tidak terasa kabut tipis turun membumi Udara dingin khas pegunungan mulai menjalari Rintik gerimis mengaburkan cahaya bulan Menambah kelam suasana kegelapan   Malam mencekam Aku sudah cukup lama menunggu Di teras langgar tempat terakhir kita bertemu Demi berbagi apapun yang mampu mendamaikanku   Sejenak, Kubaca lagi isi surat yang kubawa Tertulis 10 Juni ba'da Isya di tempat biasa   Hemmm, aku takut... Bakal lupa cerita-cerita yang kusiapkan sedari siang Tentang kacamatamu yang sempat kupecahkan Tentang arti lesung pipimu yang manis menawan   Detik jam terus berjalan Kau belum juga memberi tanda kehadiran Sementara aku terus menunggu dalam ketidakpastian   Semestinya aku khawatir Bukan sebab rumahmu yang tepat berada di seberang jalan Aku lebih khawatir kau semakin jauh dari harapan Sebab hijabmu kini semakin menutup pandangan   Aku sadar Segala tentang kita harus mulai direlakan Bahkan anta...

Galau-Is-Me

  Pagi ini kopi terasa lebih pahit dari biasanya Aku merenung, apa yang salah pada caraku menjalani hidup akhir-akhir ini Sedikit kurang nyaman, mengajar pun hambar Aku kehilangan semangat Tapi tetap berusaha menjalani apa yang menjadi kewajiban Kutukan siapa yang melekat Sumpah serapah mana yang terlontar Atau doa orang mana yang mungkin aku dzolimi Apa mungkin tentang perempuan yang tersakiti Yang semesta kurang meridhai   Apa yang salah? Adakah yang keliru? Orang baik masih aku temui Rutinitas positif masih aku jalani Lalu apa? Mengapa begitu hambar?   Aku bosan Hidup masih cukup berantakan Tidak ada kemajuan Tidak ada kepastian dalam waktu dekat Aku mengkhawatirkan masa depan Tolong sampaikan padaku? Apa aku salah? Apa langkahku keliru? Ini aku semakin menua, semakin hilang arah Siapa yang bisa aku jadikan pegangan? Tokoh mana yang bisa menuntunku, menasihatiku, mengarahkanku pada jalan yang benar? Atau kebenaran aka...