Langsung ke konten utama

Postingan

30+

Hai Hadi versi 31 tahun… Bagaimana kabarmu perhari ini? Akan selalu kupanjatkan doa-doa terbaik untukmu. Lagi sering khawatir yah dengan kondisi sekitarmu akhir-akhir ini? Kondisi keluarga, keuangan, percintaan, karir, dan mungkin kondisi pendidikan adik. Kamu memang punya pengaruh dan tanggung jawab besar untuk itu, tapi percayalah baik buruknya itu semua bukan sepenuhnya salahmu. Jangan terus-menerus merasa beban itu berada tepat di pundakmu, kembalikan saja ke Dzat yang lebih berkuasa pada itu semua. Percayalah Dia juga sudah mengirimkan sinyal-sinyal terbaiknya untuk mengajarimu banyak hal. Salah satu hal yang mungkin kamu akui sendiri, kesadaran untuk berani ambil sikap dan perlahan mengatasi sisi people pleaser -mu. O iya belakangan ini aku rasa kamu juga mulai fokus pada peningkatan diri, meskipun motifnya macam-macam yah. Eh itu peningkataan diri atau memang kondisi yang lagi memaksa begitu yah? Haha. Albafest, MAPSI, OLPAIN, Jamrana, dan wah apa lagi yah, banyak kali ...
Postingan terbaru

Harap-harap Dilema

  Dari ibu Nak, bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat dan bahagia selalu yah di rantau orang. Sebab bahagiamu pula yang menjadi sumber bahagia kami sebagai orang tua. O iya Nak, kami alhamdulillah sehat semua di rumah. Jadi kamu tak perlu merisaukan kondisi kami. Sudah fokus saja pada masa depanmu. Ingat yah, tahun ini usiamu sudah genap 30. Usia yang terbilang matang untuk memulai kehidupan berumah tangga. Kemarin pun kabarnya sudah ada perempuan yang cukup dekat denganmu. Lalu kapan rencana kamu mau membawa pasangan terbaikmu ke rumah, memperkenalkan kepada keluarga? Nak, benar bahwa kita bukan termasuk keluarga yang punya harta. Jadi kami pun sadar tidak mungkin memaksa kamu harus menikah segera. Tapi kamu pun tahu kan, Nak, jika terus menunda imbasnya apa? Kami sebenarnya khawatir, jika jarak pernikahanmu dengan adikmu terlalu dekat, kami sedikit keberatan menyiapkan modal untuk biaya resepsi dan lainnya. Ya menurut kami, jika kamu bisa nikah di tahun ini mungkin adikmu bisa...

AY

Selamat malam, Ay. Maaf yah sekiranya obrolan kita akhir-akhir ini sering membahas tema pernikahan. Sepertinya nampak sekali aku tidak sabaran, aku buru-buru mengambil keputusan. Mungkin benar kata orang-orang, sebab aku sudah masuk usianya. Aku seperti sudah berada di ambang batas usia emas untuk sebuah pernikahan. Ah masa iya? Jadi muncul sedikit pertanyaan dariku, Sekiranya tidak ada problem di rumah, apakah kamu akan tetap dengan pilihanmu sekarang? Skeptis sebagaimana sebelumya, terus menunda sampai pada titik yakin. Sekiranya bukan aku orangnya, apakah kamu akan tetap dengan prinsipmu sekarang? Sedikit cuek dan sesekali membantah pada sebagian ucapan-ucapanku. Sekiranya tidak dirayu lebih dulu, apakah kamu akan tetap dengan diam dan dinginmu? Meskipun tahun demi tahun sikapmu pada akhirnya akan dibunuh oleh waktu. Sebagaimana orang-orang yang dipaksa layu oleh keadaan dan lingkungan.   Ay, Jika boleh jujur, ada banyak ketakutan yang membayangiku belakangan i...

SEMACAM TANYA JAWAB

  Spesial di Hari Guru Nasional 2024, ada beberapa pertanyaan yang muncul dibalut dengan ungkapan ' selamat hari guru' oleh mereka, murid-murid kelasku. Maka dalam kesempatan ini izinkan aku menggunakan bahasa yang menyesuaikan komunikasiku bersama mereka. (panggilan diri 'Pak Hadi') Capcusss .... Pak Hadi calonnya mana? Pertanyaan cukup wajar di usia Pak Hadi yang hampir genap 30 tahun. Problemnya bukan di calon sebenarnya, lebih pada kondisi ekonomi Pak Hadi yang bisa dibilang belum stabil. Sebab untuk urusan perempuan, calon, atau apapun sebutannya, Pak Hadi bukan termasuk orang yang susah-susah amat untuk mencari dan mendapatkan. Bahkan sampai sekarang pun ada beberapa nama yang masuk daftar teman dekat dan masih intens komunikasi. Lagi-lagi karena memang belum siap untuk membangun rumah tangga. Mungkin kalian perlu tahu sedikit bagaimana kondisi ekonomi Pak Hadi. Jadi semenjak Pak Hadi kerja sudah banyak beban yang harus ditanggung. Tidak begitu ingat sampai ...

Miskin Adalah Privilege

  “Miskin adalah privilege”, kalimat yang tiba-tiba muncul dalam pikiran saat berjalan di halaman sekolah pagi tadi. Hari ini giliranku piket sambut di lobi sekolah. Menyambut kedatangan setiap murid dengan senyum, sapa, dan salam. Seperti biasa, aku dan rekan piketku bercanda ala-ala obrolan laki-laki nakal. Suara tawa kami sengaja ditahan atau dipelankan, bahkan sesekali berubah menjadi senyum om-om yang suka booking tempat karaoke. Berat sekali menjaga pandangan dari para perempuan cantik di sini yang notabene memang dibudayakan untuk saling tegur sapa. Sesekali aku membatin, Ya Allah… astaghfirullah… alhamdulillah… Bingung entah harus beristighfar atau bersyukur, keduanya bisa diucapkan dalam satu waktu. Mata yang cukup sehat untuk memandang keindahan paras makhluk-Nya, yang dalam keyakinanku pun akan berdosa jika dipandang secara berlebihan, lebih-lebih dengan pandangan nafsu. Kembali ke topik awal, miskin adalah privilege. Ya, bagiku miskin adalah privilege dari Allah, ka...

Sia-sia

Fakta bahwa kamu banyak yang suka atau banyak yang ngejar adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Karena itu berarti aku tidak perlu khawatir berlebihan jika suatu saat nanti takdir memisahkan jalan kita. Bukankah sedari awal kita tidak saling menjanjikan apa-apa? Hanya sebatas teman yang berusaha sejalan, melangkah beriringan, dan saling support. Sayangnya, lagi-lagi salah satu pihak melibatkan perasaan terlalu jauh. Hal yang paling aku wanti-wanti di awal pada akhirnya terjadi juga. Sebenarnya kamu sayang nggak sih? Pertanyaan yang akhirnya terlontar sebagai wujud dari kebutuhan akan kepastian. Untuk ke sekian kalinya aku tidak bisa berkata-kata. Penjelasan yang coba aku utarakan hanya berputar di isi kepala. Aku dengan mulut yang membisu dan mata yang mulai berkaca-kaca, semoga mampu ditangkap sebagai jawaban. Kita satu frekuensi, memiliki kesamaan dalam banyak hal. Sepertinya kita juga saling membutuhkan, saling berbagi kebaikan, dan banyak saling-saling lainnya. Tapi apakah l...

Aku dari Pesantren

  Suasana pesantren sore hari menjelang madrasah diniyah.  “Who am I?” Suatu pertanyaan yang mau tidak mau mengantarkanku pada pertanyaan lain, “dari mana asalku?” Bukan bermaksud filosofis, aku hanya ingin flashback sedikit mengingat masa-masa remaja di pesantren. Barangkali dengan mundur sedikit bisa membuat kakiku melompat lebih jauh dan lebih tinggi, sebagaimana biasa aku praktikan dalam olahraga atau permainan tradisional “jangka”. Masa di pesantren yang kala itu cukup memberikan banyak pelajaran hidup terutama tentang prinsip dan keyakinan. Ada banyak tata nilai dan prinsip yang lambat laun pudar dari jalan hidupku. Entah karena perjalanan usia yang selalu berkembang dan terus bertemu dengan problem-problem baru, atau memang aku sendiri yang tanpa sengaja meninggalkan nilai-nilai lama. Satu yang mungkin pasti, aku memang sudah lama tidak berkunjung ke pesantren. Padahal dulu cukup rutin berkunjung ke sana, mengingat dan mengenang banyak hal. Darinya kemudian muncul s...