Dari ibu Nak, bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat dan bahagia selalu yah di rantau orang. Sebab bahagiamu pula yang menjadi sumber bahagia kami sebagai orang tua. O iya Nak, kami alhamdulillah sehat semua di rumah. Jadi kamu tak perlu merisaukan kondisi kami. Sudah fokus saja pada masa depanmu. Ingat yah, tahun ini usiamu sudah genap 30. Usia yang terbilang matang untuk memulai kehidupan berumah tangga. Kemarin pun kabarnya sudah ada perempuan yang cukup dekat denganmu. Lalu kapan rencana kamu mau membawa pasangan terbaikmu ke rumah, memperkenalkan kepada keluarga? Nak, benar bahwa kita bukan termasuk keluarga yang punya harta. Jadi kami pun sadar tidak mungkin memaksa kamu harus menikah segera. Tapi kamu pun tahu kan, Nak, jika terus menunda imbasnya apa? Kami sebenarnya khawatir, jika jarak pernikahanmu dengan adikmu terlalu dekat, kami sedikit keberatan menyiapkan modal untuk biaya resepsi dan lainnya. Ya menurut kami, jika kamu bisa nikah di tahun ini mungkin adikmu bisa...
Selamat malam, Ay. Maaf yah sekiranya obrolan kita akhir-akhir ini sering membahas tema pernikahan. Sepertinya nampak sekali aku tidak sabaran, aku buru-buru mengambil keputusan. Mungkin benar kata orang-orang, sebab aku sudah masuk usianya. Aku seperti sudah berada di ambang batas usia emas untuk sebuah pernikahan. Ah masa iya? Jadi muncul sedikit pertanyaan dariku, Sekiranya tidak ada problem di rumah, apakah kamu akan tetap dengan pilihanmu sekarang? Skeptis sebagaimana sebelumya, terus menunda sampai pada titik yakin. Sekiranya bukan aku orangnya, apakah kamu akan tetap dengan prinsipmu sekarang? Sedikit cuek dan sesekali membantah pada sebagian ucapan-ucapanku. Sekiranya tidak dirayu lebih dulu, apakah kamu akan tetap dengan diam dan dinginmu? Meskipun tahun demi tahun sikapmu pada akhirnya akan dibunuh oleh waktu. Sebagaimana orang-orang yang dipaksa layu oleh keadaan dan lingkungan. Ay, Jika boleh jujur, ada banyak ketakutan yang membayangiku belakangan i...