Selamat malam, Ay.
Maaf yah sekiranya obrolan kita akhir-akhir ini sering membahas
tema pernikahan. Sepertinya nampak sekali aku tidak sabaran, aku buru-buru
mengambil keputusan. Mungkin benar kata orang-orang, sebab aku sudah masuk
usianya. Aku seperti sudah berada di ambang batas usia emas untuk sebuah pernikahan.
Ah masa iya?
Jadi muncul sedikit pertanyaan dariku,
Sekiranya tidak ada problem di rumah, apakah kamu akan tetap dengan
pilihanmu sekarang? Skeptis sebagaimana sebelumya, terus menunda sampai pada
titik yakin.
Sekiranya bukan aku orangnya, apakah kamu akan tetap dengan
prinsipmu sekarang? Sedikit cuek dan sesekali membantah pada sebagian ucapan-ucapanku.
Sekiranya tidak dirayu lebih dulu, apakah kamu akan tetap dengan
diam dan dinginmu? Meskipun tahun demi tahun sikapmu pada akhirnya akan dibunuh
oleh waktu. Sebagaimana orang-orang yang dipaksa layu oleh keadaan dan lingkungan.
Ay,
Jika boleh jujur, ada banyak ketakutan yang membayangiku belakangan
ini, terutama pada masa depan hubungan kita. Meskipun sudah jelas kita punya
status ‘komitmen’, tapi apakah itu bisa dengan mudah menenangkan kita? Eh aku
terutama.
Mungkin ini hal tidak baiknya dari menyukai orang secara berlebihan.
Aku menjadi terlalu berharap pada hal-hal di luar batas kemampuan. Aku menjadi
begitu khawatir jika yang terjadi justru sebaliknya, kita berhenti di tengah
jalan.
Memang tidak ada yang bisa memastikan, jika kita bersama akan
menjadi lebih bahagia dan menyenangkan. Aku pun tidak mungkin berjanji pada apa-apa
yang tidak bisa sepenuhnya aku kendalikan, tentang bagaimana nanti kita
menjalani kehidupan? Tentang bagaimana nanti usahaku memenuhi kewajiban? Tentang
bagaimana nanti aku atau kamu menghadapi kita? Iya, kita yang sangat mungkin
berubah? Dari sikapnya, parasnya, prinsipnya, keuangannya, atau apapun itu.
Ay,
Aku lebay yah? Jika iya, maaf yah.
Maaf jika aku terlalu kekanak-kanakan untuk ukuran laki-laki yang
hampir genap 30 tahun. Aku pernah bilang, sikap dan karakter orang dibentuk
oleh lingkungan dan pengalaman. Aku yang sekarang adalah hasil dari perjalanan
panjang 29 tahun lebih. Lahir di tengah-tengah keluarga yang serba pas-pasan.
Ramai memang jika dihitung dari jumlah saudara, aku anak tengah yang tidak
mungkin lama merasakan nikmatnya dimanja. Pun tidak sekeras anak pertama dengan
tingginya beban dari harapan orang tua. Sebagai laki-laki anak tengah bisa
dibilang aku cukup akan kasih sayang dari kakak dan adik. Yah mungkin itu yang
membentuk pribadi melankolisku.
Aku suka puisi, aku suka kata-kata, aku gampang tersentuh pada
hal-hal yang menggetarkan hati. Kamu tahu kan yah? Toh aku hampir menceritakan
semua yang bisa aku ceritakan. Lebay sih ini, tapi memang jika tidak dibatasi
waktu, rasa lelah, keadaan, atau apapun itu, bisa saja aku menceritakan semuanya,
SEMUANYAAA, tentu kecuali aib besarku. Hihi
Ay,
Tahu nggak, ada orang yang sayang banget sama kamu? Tapi dia sedikit
rese yah?
Kamu pasti capek, harus ngadepin karakter dia yang agak bertolak
belakang dari pribadimu?
Kamu mungkin kesel, harus mengikuti kemauan yang sedikit memaksa
darinya? Dari minta voice note, voice call, meet up, bahkan minta kepastian
hubungan. Emang agak ngeselin tuh orang.
Ay… Sampai detik ini kamu masih aman kan? Nggak papa banget
loh kalau kamu mau memberi sedikit kritik saran ke dia. Toh untuk kebaikan
hubungan kalian juga. Kata orang-orang biar hubungan kalian tumbuh.
Ay… Kamu punya pandangan apa ke pasanganmu? Apa masih stuck di
situ-situ saja? Dari kamu sendiri, belum kepikiran yah mau dibawa ke mana
hubungan kalian? Eh kan emang kamu pun belum yakin yah. Kalau sudah begitu
tidak bisa menyalahkan siapa-siapa sih, memang keadaan yang belum mendukung.
Sebagai pengamat, melihat hubungan kalian cukup menyedihkan juga sih, memang
paling benar “jalani aja dulu”.
Ay… Apa lagi yah?
Perasaanmu ke dia makin ke sini bagaimana? Bertambah atau
berkurang? Atau dalam hal ini pun kamu masih skeptis, masih memilih cari aman
dengan jawaban “entah”. Malu yah kalau harus mengakui hal-hal tentang perasaan
begitu? Seperti bukan kamu banget.
Ay… Tentang “problem”mu, maafin dia yah tidak bisa bantu apa-apa.
Bingung juga dia harus bersikap dan berbuat seperti apa, mungkin karena belum
pernah di posisi itu. Dia pun bukan dari keluarga ideal, ada saja problemnya.
Tapi percayalah, dia pun tetap merasakan apa yang lagi kamu hadapi. Mungkin
perasaan itu juga yang menjadikan dia bisa sedikit lebih bersabar menanti
kepastianmu.
….
Cukup sekian dan … apa yah? … terima kasih?
Ya sudah.
Komentar
Posting Komentar