Dari ibu
Nak, bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat dan bahagia selalu
yah di rantau orang. Sebab bahagiamu pula yang menjadi sumber bahagia kami
sebagai orang tua.
O iya Nak, kami alhamdulillah sehat semua di rumah. Jadi kamu tak
perlu merisaukan kondisi kami. Sudah fokus saja pada masa depanmu. Ingat yah,
tahun ini usiamu sudah genap 30. Usia yang terbilang matang untuk memulai
kehidupan berumah tangga. Kemarin pun kabarnya sudah ada perempuan yang cukup
dekat denganmu. Lalu kapan rencana kamu mau membawa pasangan terbaikmu ke rumah,
memperkenalkan kepada keluarga?
Nak, benar bahwa kita bukan termasuk keluarga yang punya harta.
Jadi kami pun sadar tidak mungkin memaksa kamu harus menikah segera. Tapi kamu
pun tahu kan, Nak, jika terus menunda imbasnya apa? Kami sebenarnya khawatir,
jika jarak pernikahanmu dengan adikmu terlalu dekat, kami sedikit keberatan
menyiapkan modal untuk biaya resepsi dan lainnya. Ya menurut kami, jika kamu
bisa nikah di tahun ini mungkin adikmu bisa dua tahunnya lagi. Sehingga ada
cukup waktu untuk kami mengumpulkan kembali modal resepsi adikmu.
Nak, kamu tidak lupa kan tahun ini adik perempuanmu masuk usia 26.
Itu artinya jika harus menunggu dua tahun lagi sudah di usia 28. Di kampung
usia tersebut sudah termasuk terlambat nikah bagi perempuan. Lalu bagaimana
nasib adikmu jika kamu nikah dua atau tiga tahun lagi? Ini belum menyinggung
adik laki-lakimu yang sudah genap 24 tahun. Dia juga kabarnya sudah punya pacar
yang masih seusia. Tentu bakal mulai dapat pertanyaan-pertanyaan seputar
pernikahan satu dua tahun ke depan.
Jadi mau tidak mau, kamu harus benar-benar mulai mempertimbangkan
itu semua yah, Nak.
Maafin kami.
Nak, masih tentang kapan pernikahanmu.
Info dari adikmu, katanya calonmu hafidzah. Benar begitu?
Kamu tahu kan ibu begitu mendamba memiliki anak seorang hafidz atau
hafidzah. Ingat kan dulu ibu begitu bangga dengan adik perempuanmu yang
pertama, karena mau masuk pesantren takhasus di Semarang. Sayangnya sebelum
khatam adikmu memilih boyong dengan hanya membawa 7 juz. Itu pun sudah cukup
bikin ibu bangga. Lalu tahun kemarin, adik perempuanmu yang kedua juga masuk
pesantren takhasus di Wonosobo. Yah meskipun itu juga belum berhasil masuk
program hafalan karena gagal saat seleksi awal.
Jadi saat ibu dengar kamu punya teman dekat seorang hafidzah,
harapan itu tiba-tiba membara lagi di hati ibu. Barangkali ibu belum bisa
memiliki anak hafidzah, tapi Allah ganti dengan memiliki menantu hafidzah. Ibu
akan sangat bersyukur dan tentu sangat berterima kasih kepadamu, Nak. Bahagia
sekali rasanya bisa dekat apalagi menjadi keluarga dengan manusia yang dipilih
Allah untuk menjaga dan melestarikan firman-Nya.
Nak, jaga baik-baik yah perempuan itu, sampai hati kalau kau berani
menyakiti hatinya sebesar biji dzarah pun. Ibu tidak akan ridho.
Lalu aku
Ibu, maaf yah
Bapak, maaf yah
Maaf jika sampai detik ini aku belum bisa mengajak ke rumah dan
memperkenalkan gadis pilihanku. Tapi aku sudah mencoba kok, Bu, Pak. Sesekali
kami bertemu sekedar bertanya kabar, bercerita keseharian, dan sedikit (teramat
sedikit) membahas rencana ke depan. Bagaimana pandangan kami tentang masa depan
yang entah bisa terwujud untuk bersama atau tidak. Karena momen obrolan itu
porsinya sangat sedikit, jadi sampai sekarang aku sendiri pun masih belum dapat
kejelasan. Mau apa setahun atau dua tahun ke depan? Kapan bisa silaturahmi ke
keluarga? Kapan aku bisa meminta restu kepada kedua orang tuanya? Sampai
sekarang masih abstrak.
O iya aku for your information, aku sudah hampir 30 tahun
dan dia 25 tahun. Usia yang bagi umumnya masyarakat sudah cukup matang untuk
melangsungkan sebuah pernikahan.
Hingga sekarang, aku masih merasa dia adalah ‘yang terbaik bagiku’.
Walaupun mungkin aku bukan yang terbaik baginya. Apa yah? Dia baik, cantik,
sholehah, pintar, pokoknya sudah paket lengkap menurutku.
Tapi harus menunggu dua atau tiga tahun lagi, atau entah berapa
tahun lagi untuk dia mau dan siap menikah denganku, membangun bahtera rumah
tangga denganku.
Jika harus mengingat usiaku, yang mungkin dalam adat masyarakat
desa sudah berada di ambang batas, aku sepertinya harus segera mengambil
keputusan. Antara menunggu dia dengan segala ketidakpastiannya atau rela
melepaskan dan mencoba membuka hati untuk perempuan lain. Jujur aku teramat
sayang sama dia, sudah sedalam ini perasaanku untuk dia. Namun di sisi lain aku
harus memikirkan usiaku sekaligus usia orang tuaku yang semakin menua. Belum
lagi aku juga memiliki adik perempuan yang sudah genap 26 tahun dengan status
belum menikah juga. Jika aku terus menunda sama halnya penundaan untuk adik dan
seterusnya.
Atau ….
Apa mungkin aku yang harus menurunkan ego, tidak harus memaksakan
diri menikah dengan perempuan yang teramat aku cintai? Lalu menerima perempuan
yang mungkin dulu aku sempat ada rasa terhadapnya. Ah capek juga. Bagiku ini
pilihan sulit.
Namun ini demi keluarga. Iyah untuk kesekian kalinya demi keluarga.
Tidak apa tidak dengan yang aku cinta, asal siklus keluarga bisa kembali
berjalan sebagaimana umunya, tidak terhambat oleh segala ketidakpastian sebuah
hubungan.
gapapa kalo gak sama tsania,
kalo sekiranya bakal berat dan lama
kasihan bapak ibu juga
Semarang, 8 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar