Langsung ke konten utama

Overthinking


Ada banyak hal yang sebaiknya tidak kita ketahui secara terperinci.

Dewasa ini, aku sering merasakan lelahnya dihantam kekhawatiran yang tidak pasti. Hal-hal sederhana yang sebelumnya aku anggap bakal mudah terlewati, tiba-tiba berubah menjadi sebegitu runyamnya ketika sedang kualami. Tidak semestinya segalau ini, tidak semestinya sekhawatir ini.

Cerita kemarin malam misalnya, dalam sebuah obrolan tongkrongan aku akhirnya mengetahui satu fakta, lalu aku cerna fakta itu sejadi-jadinya. Bahwa sebaiknya aku berganti haluan, merubah tujuan, melepas harapan. Aku tidak seharusnya jalan terus lurus ke depan, sesekali perlu jeda untuk belok kiri dan kanan, atau bahkan putar balik jika memang dibutuhkan.

Mungkin kata orang, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Selagi mau berusaha pasti akan ada jalannya. Tapi aku sudah tidak bisa seoptimis itu, terlalu banyak ekspektasi dan realisasi yang menemui jalan buntu. Pertama gagal, lalu gagal lagi, dan gagal terus. Seru dan mengasyikan bukan? Bukan. Memang sepertinya aku butuh support cuan.     

Kini perlahan aku mulai menyimpulkan, bahwa semakin menua aku semakin materialis saja. Bawaannya pengin jadi orang yang cukup harta. Sebab selama ini aku merasa sumber masalahku ada di sana. Kelewat sering berada di situasi serba kekurangan, apa-apa selalu terhambat masalah keuangan. Belum lagi lingkungan pergaulan yang memaksa terus dibanding-dibandingkan.

Capek nggak sih? Jelas capek doooooong, malah ditanya.

Aku tahu kok, setiap kita punya standar cakepnya masing-masing, eh capeknya. Tapi serius, bagiku mengatasi masalah kini dan mengkhawatirkan masa depan se-melelahkan ini. Ujung-ujungnya cuma bisa menghibur diri dengan mengingat capaian-capaian di masa lalu. Wah dulu aku bisa sehebat itu yah. Dulu, iya dulu, serba dulu.

Tetap berdoa saja-lah, sembari berusaha terus menjaga keyakinan bahwa …

bersama kesulitan terdapat kemudahan,

habis gelap terbitlah terang,

terbentur, terbentur, lalu terbentuk,

yakin usaha sampai,

badai pasti berlalu.

 

“Allah tidak akan menguji seorang hamba melebih batas kemampuannya.”

(QS. Al Baqarah: 286)


Meskipun dominan pesimisnya, aku tetap belum ingin menyerah. Jika memang kehidupan masih memberi kesempatan, maka jalan ke depan akan terus terbentang. Saat banyak masalah menghadang, aku bisa saja umpan sayap kanan, giring ke depan, lalu cetak gol kemenangan. Hehe.

 

  Semarang, 14 Agustus 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harap-harap Dilema

  Dari ibu Nak, bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat dan bahagia selalu yah di rantau orang. Sebab bahagiamu pula yang menjadi sumber bahagia kami sebagai orang tua. O iya Nak, kami alhamdulillah sehat semua di rumah. Jadi kamu tak perlu merisaukan kondisi kami. Sudah fokus saja pada masa depanmu. Ingat yah, tahun ini usiamu sudah genap 30. Usia yang terbilang matang untuk memulai kehidupan berumah tangga. Kemarin pun kabarnya sudah ada perempuan yang cukup dekat denganmu. Lalu kapan rencana kamu mau membawa pasangan terbaikmu ke rumah, memperkenalkan kepada keluarga? Nak, benar bahwa kita bukan termasuk keluarga yang punya harta. Jadi kami pun sadar tidak mungkin memaksa kamu harus menikah segera. Tapi kamu pun tahu kan, Nak, jika terus menunda imbasnya apa? Kami sebenarnya khawatir, jika jarak pernikahanmu dengan adikmu terlalu dekat, kami sedikit keberatan menyiapkan modal untuk biaya resepsi dan lainnya. Ya menurut kami, jika kamu bisa nikah di tahun ini mungkin adikmu bisa...

AY

Selamat malam, Ay. Maaf yah sekiranya obrolan kita akhir-akhir ini sering membahas tema pernikahan. Sepertinya nampak sekali aku tidak sabaran, aku buru-buru mengambil keputusan. Mungkin benar kata orang-orang, sebab aku sudah masuk usianya. Aku seperti sudah berada di ambang batas usia emas untuk sebuah pernikahan. Ah masa iya? Jadi muncul sedikit pertanyaan dariku, Sekiranya tidak ada problem di rumah, apakah kamu akan tetap dengan pilihanmu sekarang? Skeptis sebagaimana sebelumya, terus menunda sampai pada titik yakin. Sekiranya bukan aku orangnya, apakah kamu akan tetap dengan prinsipmu sekarang? Sedikit cuek dan sesekali membantah pada sebagian ucapan-ucapanku. Sekiranya tidak dirayu lebih dulu, apakah kamu akan tetap dengan diam dan dinginmu? Meskipun tahun demi tahun sikapmu pada akhirnya akan dibunuh oleh waktu. Sebagaimana orang-orang yang dipaksa layu oleh keadaan dan lingkungan.   Ay, Jika boleh jujur, ada banyak ketakutan yang membayangiku belakangan i...