Langsung ke konten utama

Terombang-ambing


Ada yang kini merasa sedang berada di ujung ketidakpastian. Untuk semua hal, entah karir, pendidikan, asmara, keluarga, atau apapun. Merasa sudah sampai pada titik nggak tau mau ngapain lagi. Sudah berusaha untuk tetap berada di jalur yang benar, mengupayakan agar semua berjalan dengan baik, agar kehidupan bisa terus berlanjut. Tapi tetap nihil, kehidupan masih terasa melelahkan, penat, jenuh, dan huft. Apapun itu, kita berharap menemui bahagia-bahagia dengan segera. Kita menghendaki kehidupan seperti orang lain, terlihat begitu lancar dan menyenangkan. Kita kelewat sering membandingkan belum apa-apa nya kita dengan capaian teman sebaya. Mereka sudah di posisi itu, kok kita belum? Tanpa sadar mulai sering mempertanyakan, mengapa semesta tidak berpihak kepada kita?

Aku sengaja menyebut "kita" karena bukan hanya tentang orang-orang di luar sana, tapi juga tentang aku yang akhir-akhir ini pun turut merasakan kondisi sebegitu huft-nya. Mau nyerah? Tapi terus apa? Bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa menyerah. Tidak ada tombol "surrend" dalam kehidupan kita untuk kemudian memulai kehidupan yang baru. Kita mau tidak mau harus meneruskan kehidupan, termasuk hari-hari kemarin yang begitu melelahkan. Akan banyak episode-episode serupa di masa yang akan datang. Bedanya, kita akan mulai menerima, kita akan mulai terbiasa, lalu mendewasa.

Eh sebentar, aku sedikit teringat, bukankah sekelas nabi pun sering menghadapi ke-huft-an hidup yang sama.

Ada satu waktu di mana nabi diminta untuk "menyerah" oleh pamannya sendiri, Abu Thalib. Paman yang begitu ia cintai, paman yang sedari awal membela dakwah nabi.

Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan berkata begini dan begitu, maka hentikanlah demi dirimu dan diriku, janganlah engkau bebankan padaku sesuatu yang aku tidak sanggup menanggungnya.

Lantas nabi mengira akan ditelantarkan tanpa pembelaan dan dukungan dari keluarga dekatnya. Hingga dalam kepasrahan dan keteguhan hatinya beliau menjawab,

Wahai paman, demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya! Andai mereka meletakkan matahari di tanganku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan agama ini, sungguh aku tidak akan berhenti, hingga Allah memenangkan agama ini atau aku ikut binasa berkalang tanah bersamanya.

Nabi terus mengawali dengan pasrah disertai usaha dan upaya. Nabi menyadari sedari awal bahwa jalan dakwah ini tidak akan mulus, bahwa tantangan ke depan akan terus terbentang. Lalu, bukankah kita juga sama? Sering menyadari bahwa kehidupan ini tidak akan berjalan dengan baik-baik saja, bahwa kehidupan ini terus menawarkan pilihan masalah sedemikian rupa. Kita seketika merasa tidak mampu, namun nyatanya kita masih bertahan sampai di titik ini, melewati bertubi-tubi masalah, bertahun-tahun lamanya.

Aku sedang tidak menawarkan solusi apa-apa pada kehidupan ini. Aku hanya merasa perlu terus menyadari, menyadari, dan menyadari. Untuk kemudian menerima dan berpasrah pada kehendak Ilahi.

"(Ingatlah) ketika Tuhan berkata kepadanya (Ibrahim), "berserahdirilah!" Dia menjawab, "aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam." (QS. Al Baqarah: 131).

Komentar

  1. Akan ada saatnya kopi pait yang diminum tiap hari berubah jadi manis. Aku yakin itu. 😊

    Salam dari pelosok Jawa Tengah. Hehe

    BalasHapus
  2. Padahal makin ke sini makin suka kopi yang pahit. hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harap-harap Dilema

  Dari ibu Nak, bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat dan bahagia selalu yah di rantau orang. Sebab bahagiamu pula yang menjadi sumber bahagia kami sebagai orang tua. O iya Nak, kami alhamdulillah sehat semua di rumah. Jadi kamu tak perlu merisaukan kondisi kami. Sudah fokus saja pada masa depanmu. Ingat yah, tahun ini usiamu sudah genap 30. Usia yang terbilang matang untuk memulai kehidupan berumah tangga. Kemarin pun kabarnya sudah ada perempuan yang cukup dekat denganmu. Lalu kapan rencana kamu mau membawa pasangan terbaikmu ke rumah, memperkenalkan kepada keluarga? Nak, benar bahwa kita bukan termasuk keluarga yang punya harta. Jadi kami pun sadar tidak mungkin memaksa kamu harus menikah segera. Tapi kamu pun tahu kan, Nak, jika terus menunda imbasnya apa? Kami sebenarnya khawatir, jika jarak pernikahanmu dengan adikmu terlalu dekat, kami sedikit keberatan menyiapkan modal untuk biaya resepsi dan lainnya. Ya menurut kami, jika kamu bisa nikah di tahun ini mungkin adikmu bisa...

AY

Selamat malam, Ay. Maaf yah sekiranya obrolan kita akhir-akhir ini sering membahas tema pernikahan. Sepertinya nampak sekali aku tidak sabaran, aku buru-buru mengambil keputusan. Mungkin benar kata orang-orang, sebab aku sudah masuk usianya. Aku seperti sudah berada di ambang batas usia emas untuk sebuah pernikahan. Ah masa iya? Jadi muncul sedikit pertanyaan dariku, Sekiranya tidak ada problem di rumah, apakah kamu akan tetap dengan pilihanmu sekarang? Skeptis sebagaimana sebelumya, terus menunda sampai pada titik yakin. Sekiranya bukan aku orangnya, apakah kamu akan tetap dengan prinsipmu sekarang? Sedikit cuek dan sesekali membantah pada sebagian ucapan-ucapanku. Sekiranya tidak dirayu lebih dulu, apakah kamu akan tetap dengan diam dan dinginmu? Meskipun tahun demi tahun sikapmu pada akhirnya akan dibunuh oleh waktu. Sebagaimana orang-orang yang dipaksa layu oleh keadaan dan lingkungan.   Ay, Jika boleh jujur, ada banyak ketakutan yang membayangiku belakangan i...

Overthinking

Ada banyak hal yang sebaiknya tidak kita ketahui secara terperinci. Dewasa ini, aku sering merasakan lelahnya dihantam kekhawatiran yang tidak pasti. Hal-hal sederhana yang sebelumnya aku anggap bakal mudah terlewati, tiba-tiba berubah menjadi sebegitu runyamnya ketika sedang kualami. Tidak semestinya segalau ini, tidak semestinya sekhawatir ini. Cerita kemarin malam misalnya, dalam sebuah obrolan tongkrongan aku akhirnya mengetahui satu fakta, lalu aku cerna fakta itu sejadi-jadinya. Bahwa sebaiknya aku berganti haluan, merubah tujuan, melepas harapan. Aku tidak seharusnya jalan terus lurus ke depan, sesekali perlu jeda untuk belok kiri dan kanan, atau bahkan putar balik jika memang dibutuhkan. Mungkin kata orang, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Selagi mau berusaha pasti akan ada jalannya. Tapi aku sudah tidak bisa seoptimis itu, terlalu banyak ekspektasi dan realisasi yang menemui jalan buntu. Pertama gagal, lalu gagal lagi, dan gagal terus. Seru dan mengasyikan bukan? Bukan...