Langsung ke konten utama

Postingan

Romantisme Dua Ulama

Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan pesantren ketika seorang santri sowan kepada kiai atau gurunya. Suatu hari Hamid, salah seorang santri pesantren masyhur di Wonosobo, diutus oleh Sang Kiai untuk menemui Mbah Dalhar di Jombang dan Mbah Siradj di Pasuruan. Dua tokoh tersebut merupakan guru dari Sang Kiai sewaktu dulu masih menimba ilmu di pesantren. Pada lebaran tahun ini Sang Kiai mendadak sakit, sehingga belum bisa sowan ke para kiai yang di luar kota. "Iki sangu kanggo ning dalan. Ati-ati yo, Le!"  Pesan Sang Kiai sembari menyodorkan bekal dan ongkos perjalanan. Singkat cerita, berangkatlah Hamid dari Wonosobo malam hari. Ia baru sampai di ndalem Kiai Dalhar Jombang ketika paginya. Ia disambut baik oleh Kiai, diberi jamuan yang lengkap, mulai dari dodol, kue kering, buah, keripik, dan banyak lainnya. Tidak lupa sebagai santap paginya dengan ketupat sayur dan teh hangat. Kiai memberi banyak wejangan kepada Hamid. Selain itu, Kiai juga menceritakan sosok mur...

ICHA

Pagi itu sinar mentari terasa lebih hangat memenuhi seluruh penjuru Markas Akademi Militer Magelang. Kemilau cahayanya memantul dari balik lencana pembina kami saat memberikan pidato upacara, membuat kami setengah menutup mata. Berbeda dari sebelumnya, upacara kali ini terasa lebih spesial karena merupakan upacara penutupan sekaligus perpisahan prajurit. Sebanyak dua ratus prajurit dilepas setelah sebelumnya menjalani Diklat selama dua tahun. Kami diberi waktu dua minggu untuk berlibur di rumah sebelum nantinya di tempatkan tugas di masing-masing wilayah. Aku memperoleh bagian penempatan di NTT, tepatnya di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Selepas upacara aku beranjak ke barak untuk segera berkemas. Dengan menggunakan koper dan tas ransel sudah cukup untuk membawa semua barang-barangku selama Diklat. Siang itu juga aku meninggalkan Markas untuk bertolak ke rumahku di sebuah desa dekat pusat Kota Pekalongan. Tidak lupa aku sempatkan mampir di pusat oleh-oleh khas Magelang y...

BUS

Begitu sejuk jendela ini Dalam senyapnya bus terminal Naik turun banyak penumpang Ah tidak juga, Terkadang silih berganti Pedangan asongan Tawarkan dengan seribu jurus andalan Dan kini Dia mulai terdiam Melirik satu bangku di belakang Wanita itu Berkerudung hijau NU

Catatan 15/12/17

Si Barat takkan bisa mengalahkan Si Timur melalui perang militer. Si Barat jelas kalah, karena Si Timur akan begitu bersemangat. Pilihan Si Timur: 1. Menang dan dapat kejayaan 2. Kalah dan dapat kejayaan pula ( surga ) Maka dari itu, Si Barat menggunakan strategi lain. Apa itu? Politik devide et impera (adu domba). Cukup dengan membuat wacana Bisa menjadikan antar Si Timur saling menyalahkan, sibuk dengan urusan mereka sendiri, lupa mana kawan mana lawan. Ini yang dinamakan Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Lihatlah bagaimana antar Ormas Islam saling menjelekkan. Antar organisasi ekstra kampus (Islam) saling merendahkan. Ah sudahlah... Aku juga belum begitu paham. Oleh karenanya, Nantikan diskusi PTKP HMI Kom. FITK tentang Ghazwul Fikri. Coming soon...

Catatan 14/12/17

Seringkali kita memilih mengatakan terserah Padahal bisa mengatakan sepakat atau gak sepakat, sebainya gini... Kita terlalu takut akan resiko Merasa aman di zona nyaman Dan dengan seenaknya mengatakan aku makmum Lucunya,,, aku pun masih begitu. Ah sudahlah... Mau sampai kapan seperti ini terus? Atau menunggu lupa Bahwa kita terlampau jauh tertinggal. Cukuplah, mari mengambil sikap Manfaatkan peluang. (lanjutan) Ketika kamu memilih untuk memperlihatkan kelemahanmu, kesedihanmu dan ketakutanmu ... Maka saat itu kamu telah mengecewakan banyak orang yang begitu mengidolakanmu... Maka saranku. Silahkan lemah, sedih dan takut, tapi Jangan pernah kau perlihatkan Karena aku pun begitu mengidolakanmu Maka please jangan kecewakan aku. Terinspirasi dari story sahabat

Catatan 13/12/17

Ada kawan yang nyeloteh 'aku gak tau dan gak mau tau urusan politik' Hem, aku cukup terdiam 'masih ada saja phobia politik di kalangan masyarakat' Begini, ketika kita tidak tahu tentang politik maka konskuensi logisnya adalah kita akan mudah dipolitisi (dimanfaatkan). Bukankah Rasulullah juga mengajarkan politik? Bagaimana menanamkan keyakinan, mengatur strategi dan taktik, serta memimpin umatnya. Itu semua bagian dari politik. Kita boleh bahkan wajib berpolitik, asal tidak tenggelam di dalamnya. 'cukup tau dan tapi gak perlu terjun langsung ke dunia politik' Kalau semua orang baik berpikiran seperti itu, secara tidak langsung kita merelakan kekuasaan dipegang oleh penguasa yang dholim. Jika sudah pada taraf seperti itu, bukankah akan menjadi dosa dan kelalaian bersama? Kita bisa menengok kasus di Iran dan Syria, bagaimana kaum Sunni tertindas oleh kaum Syiah. Apa penyebabnya? Tentu karena kaum Sunni di sana mengharamkan politik, da...

Catatan 12/12/17

Seasyik apapun kita mewarnai hidup, tentu akan merasakan bosan juga. Begitupun dengan kuliah, menjelang akhir semester nampak rasa males, mules, lemes bersamaan. Saat itu kata alm. Uje, kembalilah kepada Sang Pencipta. Tidak harus berhenti hidup, cukup perbanyak temui Dia di rumah-Nya. Asyhadu an la ilaha illallah Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.