Langsung ke konten utama

30+

Hai Hadi versi 31 tahun…

Bagaimana kabarmu perhari ini? Akan selalu kupanjatkan doa-doa terbaik untukmu.

Lagi sering khawatir yah dengan kondisi sekitarmu akhir-akhir ini? Kondisi keluarga, keuangan, percintaan, karir, dan mungkin kondisi pendidikan adik. Kamu memang punya pengaruh dan tanggung jawab besar untuk itu, tapi percayalah baik buruknya itu semua bukan sepenuhnya salahmu.

Jangan terus-menerus merasa beban itu berada tepat di pundakmu, kembalikan saja ke Dzat yang lebih berkuasa pada itu semua. Percayalah Dia juga sudah mengirimkan sinyal-sinyal terbaiknya untuk mengajarimu banyak hal. Salah satu hal yang mungkin kamu akui sendiri, kesadaran untuk berani ambil sikap dan perlahan mengatasi sisi people pleaser-mu.

O iya belakangan ini aku rasa kamu juga mulai fokus pada peningkatan diri, meskipun motifnya macam-macam yah. Eh itu peningkataan diri atau memang kondisi yang lagi memaksa begitu yah? Haha. Albafest, MAPSI, OLPAIN, Jamrana, dan wah apa lagi yah, banyak kali lah. Termasuk juga keterlibatanmu dalam pembiasaan ibadah di masjid, kembali peduli dan berani untuk menertibkan murid. Padahal sebelumya kamu lebih sering mencari aman karena terlalu takut dibenci murid. Iya kan?

Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu takut banget dimusuhin atau dibenci orang? Kamu kekurangan kasih sayang kah, sampai-sampai mencari validasi cinta dari setiap orang yang kamu temui. Aku tahu, kamu berbuat baik karena memang ingin dipandang baik, agar layak dicintai orang-orang. Padahal kamu pun sedikit tahu, hal itu tidak sepenuhnya berhasil. Orang-orang justru sering meremehkanmu, karena tidak ada kejelasan sikap. Tidak pernah terlihat menolak, mengambil sikap, terombang-ambing tanpa prinsip.

Had, kamu masih ingat dengan Triad kan? 15 tahun lalu dia super tegas di pesantren. Tatapan dinginnya bisa mendiamkan sekaligus menggerakkan santri lain, ibadah menjadi lebih tertib dan disiplin. Dia mampu mempengaruhi orang-orang yang bahkan mungkin lebih tua darinya. Kamu tidak lupa kan, Had? Dia sepertinya siap banget untuk dibenci orang-orang. Anehnya justru sikap itu yang menjadikan dia mendapat respect dari orang-orang sekitar, termasuk orang yang membencinya, seperti benci tapi menaruh respect.

Mungkin kamu juga masih ingat, 7 tahun lalu ada mahasiswa yang statusnya mungkin hanya sebatas sekretaris di sebuah organisasi. Dia dengan sisa-sisa tenaganya sepulang kerja berani mendatangi sendiri markas organisasi lawan yang terang-terangan sedang mengajak perang.

Pun cerita lain, di sebuah rangkaian suksesi organisasi, sekretaris tersebut juga memilih jalan kebenaran yang konsekuensinya dibenci satu rombongan. Dulu seberani itu untuk dibenci orang-orang.

Lalu kenapa dengan kamu yang sekarang, Had? Kok seperti butuh banget untuk dicintai orang-orang sekitar. Apa yang kamu harapkan?

Hah sudah sudah, kok jadi keinget teorinya Thomas Adler, tentang superior dan inferior.

Maaf…

 

Hai Hadi, Triad, Babeh atau siapapun masa laluku 7 15 20 tahun lalu

Terima kasih yah sudah ikut membentuk diriku yang sekarang. Hadi di versi sekarang banyak yang berubah yah? Maaf yah, diakui belakangan ini kondisinya buruk, aku kehilangan banyak kesempatan untuk menyenangkan diri sendiri. Aku tiba-tiba dibebankan amanah yang semestinya belum waktunya aku emban. Aku anak ketiga tapi berasa menjadi anak pertama. Aku belum berkeluarga tapi sudah merasakan lelahnya jika menjadi kepala rumah tangga.

Bukan sepenuhnya salah sesiapa, memang Tuhan sedang bermain-main saja dengan hambanya, mengujinya, sekehendak-Nya. ALLAH MAH MAHA BEBAS.

Hai Hadi kecil, dulu kamu berharap apa yah di masa dewasamu? Mimpi keliling dunia yah? Saat jadi santri membayangkan punya pesantren yah? Apa lagi yah? Menikah di usia 25?

Haha maaf sebagian besar tidak terwujud. Astaghfirullah, aku menulisnya pun ngakak.

 

Triad, Babeh, tolong pinjamin kekuatan kalian yah.

Pinjamin keberanian dan ketegasan seorang Triad. Pinjamin keceriaan dan optimismenya seorang Babeh. Karena kuakui Hadi yang sekarang ini banyak murungnya, terlalu sering overthingking, hingga hilang arah.

Untungnya dulu kalian tidak tahu apa yang bakal terjadi saat ini. Karena mungkin bakal hilang keceriaan dan keberanian kalian. Murung lebih awal, mengkhawatirkan masa yang belum benar-benar datang, belum benar-benar terjadi.

Ah kalau dipikir, aku yang sekarang pun lebih banyak mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti terjadi. Aku mengkhawatirkan lajangku yang memang bisa bertahan lama, tapi toh bisa juga tinggal hitungan beberapa pekan lagi. Iya yah kok aku sekhawatir itu. Chill saja lah yah. Nikmatin momen-momen yang sedang terjadi ini. Siapa tahu 3 atau 5 tahun lagi aku sudah mulia, sudah makmur hidupnya. Mungkin Hadi saat itu sudah bisa menertawai Hadi yang sedang mengetik ini.

 

Menyapa Triad Babeh sudah

Menyapa Hadi yang menulis ini juga sudah

Ayo kita coba sapa Hadi di 5 atau 10 tahun ke depan

 

Hai Hadi usia 37 atau 40 tahun

Bagaimana kondisinya, Pak? Apa masih sama dengan Hadi yang menulis saat ini? Sudah berkeluarga belum jadinya? Kenalin dong pasangannya kalau beneran sudah. Akhirnya perempuan seperti apa yang menjadi pendamping hidupmu? Jaga dia baik-baik yah. Syukur sih kalau kalian akur dan romantis. Aamiin

Kerjaan bagaimana, Pak? Masih setia mengajar di Al Azhar? Ingat ya Pak, saat Hadi menulis ini sedang di kondisi cukup betah di Al Azhar. Jelas karena nyaman dan sejauh ini tidak ada masalah atau drama yang berarti. Ada banyak hiburan juga, bisa futsalan, mini soccer, badminton, jogging, bercanda dengan murid yang usia-usia remaja itu.

Tapi Pak, kalau memang sekarang sudah pindah, mungkin karena pilihan pernikahan, atau diterima CPNS, semoga betah yah. Semoga dapat lingkungan yang positif dan gaji yang sepadan.

Orang tua dan adik-adik bagaimana kabarnya, Pak? Sudah sibuk masing-masing yah? Reza sukses berkarir di politik, Silvi masih tugas akhir, dan Yanti akhirnya berani menikah. Terkhusus untuk bapak dan ibu, semoga mereka sehat selalu ya, Pak. Aamiin. Semoga bisa melihat anak-anaknya sukses, akur, dan turut membahagiakan orang tuanya. Aamiin lagi.

 

Cukup yah episode 7 Oktober kali ini,

Pesanku, 

Bosen dan lelah boleh, tapi jangan pernah berhenti menjadi orang baik ya.

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini

Aku bangga padamu

See you later, Hadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebagai Pria ...

Bagaimana seharusnya sikap pria kepada wanitanya? Sebagai pria, seringkali kita keliru dalam memberikan perlakuan kepada pasangannya. Beberapa sikap mendasar yang kita anggap benar, bisa jadi merupakan sesuatu yang salah bagi wanita. Kita sering mendengar slogan “wanita selalu benar”, lalu kita menjadikannya seperti bahan olok-olokan. Sedikit berlebihan memang, sebab sangat mungkin jika sebenarnya memang kita -sebagai pria- yang salah. Kita seringkali tidak menyadari telah berbuat keliru terhadap pasangannya. Maka dalam kesempatan ini, sepertinya menarik untuk mengulas sedikit tentang bagaimana seharusnya sikap pria terhadap wanitanya. Inilah beberapa sikap yang seharusnya pria berikan kepada wanitanya: 1.     Jangan menjelaskan, tapi meminta maaf Yups, kalau kita punya salah atau dianggap salah sama pasangan kita, tidak perlu banyak menjelaskan ini itu, it’s percuma. Ketika doi sedang marah, akan susah untuk mau menerima penjelasan kita. Jangankan menerima, mendeng...

Harap-harap Dilema

  Dari ibu Nak, bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat dan bahagia selalu yah di rantau orang. Sebab bahagiamu pula yang menjadi sumber bahagia kami sebagai orang tua. O iya Nak, kami alhamdulillah sehat semua di rumah. Jadi kamu tak perlu merisaukan kondisi kami. Sudah fokus saja pada masa depanmu. Ingat yah, tahun ini usiamu sudah genap 30. Usia yang terbilang matang untuk memulai kehidupan berumah tangga. Kemarin pun kabarnya sudah ada perempuan yang cukup dekat denganmu. Lalu kapan rencana kamu mau membawa pasangan terbaikmu ke rumah, memperkenalkan kepada keluarga? Nak, benar bahwa kita bukan termasuk keluarga yang punya harta. Jadi kami pun sadar tidak mungkin memaksa kamu harus menikah segera. Tapi kamu pun tahu kan, Nak, jika terus menunda imbasnya apa? Kami sebenarnya khawatir, jika jarak pernikahanmu dengan adikmu terlalu dekat, kami sedikit keberatan menyiapkan modal untuk biaya resepsi dan lainnya. Ya menurut kami, jika kamu bisa nikah di tahun ini mungkin adikmu bisa...

Sia-sia

Fakta bahwa kamu banyak yang suka atau banyak yang ngejar adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Karena itu berarti aku tidak perlu khawatir berlebihan jika suatu saat nanti takdir memisahkan jalan kita. Bukankah sedari awal kita tidak saling menjanjikan apa-apa? Hanya sebatas teman yang berusaha sejalan, melangkah beriringan, dan saling support. Sayangnya, lagi-lagi salah satu pihak melibatkan perasaan terlalu jauh. Hal yang paling aku wanti-wanti di awal pada akhirnya terjadi juga. Sebenarnya kamu sayang nggak sih? Pertanyaan yang akhirnya terlontar sebagai wujud dari kebutuhan akan kepastian. Untuk ke sekian kalinya aku tidak bisa berkata-kata. Penjelasan yang coba aku utarakan hanya berputar di isi kepala. Aku dengan mulut yang membisu dan mata yang mulai berkaca-kaca, semoga mampu ditangkap sebagai jawaban. Kita satu frekuensi, memiliki kesamaan dalam banyak hal. Sepertinya kita juga saling membutuhkan, saling berbagi kebaikan, dan banyak saling-saling lainnya. Tapi apakah l...